19 November 2019

Mengapa Motor Sport & Bebek Menggunakan Rantai dan tidak menggunakan Belt?

Mengapa Motor Sport & Bebek Menggunakan Rantai dan tidak menggunakan Belt?

Beberapa tahun terakhir ini motor jenis skutik sangat popular di Indonesia. Motor jenis tersebut menggunakan belt drive sebagai penghubung mesin dengan roda belakang.  Selain skutik, ada beberapa motor gede berputaran mesin rendah seperti Harley-Davidson juga menggunakan penggerak semacam ini.

Tapi mengapa motor jenis bebek hingga motor sport berkapasitas tinggi seperti MotoGP tetap menggunakan sistem rantai dan sprocket gear?

Di sistem belt, yang tidak terlalu bergerigi seperti halnya sistem rantai membuat daya cengkeramnya kurang. Dengan tekstur seperti itu, ada batasan tenaga yang bisa dilewatkan pada penghubung jenis belt.

Akhirnya, kemungkinan slip akan besar jika digunakan di motor bebek atau motor sport yang mesinnya bekerja pada putaran tinggi. Terutama saat pergantian gigi, akan terjadi lonjakan yang kemungkinan besar membuat belt slip.

Selain slip, kemungkinan belt untuk putus juga sangat besar. Dengan karakter mesin yang seperti itu, tidak memungkinkan motor bebek atau sport menggunakan belt. Rantai lebih kuat dan lebih cocok bekerja dengan mesin berputaran tinggi.

Hal lainnya yang membuat motor jenis bebek hingga motor sport adalah soal efisiensi penyaluran tenaga mesin. Rata-rata power loss rantai hanya sekitar 5 persen, jauh lebih kecil dari power loss belt drive yang mencapai 15 persen.